Tips MC Panggung Part. II

Sunday, May 25, 2014

Lanjutan dari blog saya sebelumnya. Ah...senangnya hari ini saya bisa langsung nulis 2 blog. Boleh tepuk tangan yang gemuruh buat saya. Terima kasih.. Terima kasih.. 

Sekarang kita maju lagi ke persiapan pada hari-H, ketika seorang MC itu berada di backstage atau di belakang panggung:

1. Yang utama dan terutama adalah ON-TIME 
Kalau bisa datang lebih pagi dari jam yang diminta. Jadi kita bisa melakukan persiapan dengan baik, mengenali tempat, lingkungan sekitar stage, stage, audience supaya terjalin chemistry yang baik (ehemm..tadi jantung hati, sekarang chemistry ujung-ujungnya tetep cinta..)

2. Check-mic 
Salaman dulu sama soundmannya, terus kenalan deh, asal jangan ditambahin lirikan-lirikan atau kedipan-kedipan mata ya :p
Soundman ini merupakan orang yang turut andil dalam bagus atau tidaknya suara yang kita hasilkan. Pernah suatu waktu saya lupa check mic & yang terjadi adalah saya mengagetkan seluruh ruangan dengan suara saya yang super keras

3. Latihan pernafasan 
Ini selalu saya lakukan sebelum saya manggung supaya nantinya suara saya berpower, ga kehabisan nafas atau meminimalisir terjadinya "slip of tongue". Jangan kaget kalau misalnya kalian ke backstage dan lihat saya lagi monyong-monyongin bibir sambil ngomong A I U E O atau lagi nyanyi-nyanyi ga jelas. Itu salah 1 latihan pernafasan

4. Tidak emosional
Walaupun abis argument sama bonyok atau diputusin pacar secara sepihak, inget semua itu harus ditinggal sementara dulu selama ngemsi. You have to be profesional! Saya pernah nangis di backstage, tapi begitu di atas panggung saya lupain sejenak. Eh begitu jeda, balik lagi ke backstage, saya lanjutin lagi nangisnya ahahahaha.. (ini jangan dicontoh, waktu itu air mata saya keluar sendiri dan ga bisa ditahan lagi). Tapi kejadian ini cukup sekali seumur hidup saya karena saya tidak mau merusak suasana hati saya ketika saya bekerja

5. Pandai beradaptasi (dengan pengisi acara lain, client, EO, soundman dan juga partner MC)

6. Baca rundown berulang-ulang 
Apalagi jika menyangkut nama, gelar dan jabatan seseorang, nama product (dalam Bahasa Inggris). Kalau saya membaca rundown berulang-ulang sudah dilakukan pada malam hari sebelumnya sambil membayangkan ketika saya sudah berada di atas panggung membawakan acara tersebut.

Taraaaa...dan sekarang waktunya menggebrak panggung alias ON STAGE... Apa sajakah yang harus diperhatikan?

1. Eye Contact 
Ga perlu terus-terusan ngomong "Tatap Mata Saya" dengan kedua tangan kayak mau nyolok mata, tapi yang dimaksud di sini adalah dengan memandang audience secara bergantian dan berikan senyuman dengan tulus
Lihatlah eye contact kami berdua menatap audience

2. Body Language
Body language merupakan komunikasi non-verbal, termasuk postur tubuh, gerak tubuh, ekspresi wajah dan juga gerakan mata. Jadi dalam hal ini "Tubuhmu Berbicara." Cara melatih body language ini sering-seringlah ngaca. Kalau perlu beli cermin yang paling gede supaya bisa latihan tiap hari di rumah.


3. Walking The Talk
Kalau ga ngerti, silahkan tanyakan langsung ke Mbak Google artinya apa :p

4. Wawasan yang luas

5. Penampilan
Perhatikan from head to toe! Ini penting, karena penampilan juga menunjang kePDan kita saat di atas panggung



Foto penampilan saya, mulai dari hair do, make-up, dresscode (menyesuaikan thema acara)



Foto yang ini sepatunya keliatan tapi sedikit kurang jelas, tapi begitulah kira-kira. Penampilan yang serasi dari atas kepala sampai dengan kaki :)


6. Pertahankan waktu

7. Suara dan cara beradaptasi 

Ini akan saya bahas secara tuntas dan padat di waktu mendatang. Biar lebih penasaran

8. Cepat tanggap jika ada kejadian-kejadian tak terduga di atas panggung ataupun luar run down acara

9. Kreatif dan penuh inisiatif 

Misalnya dalam pembuatan bikin games harus seru dan menarik perhatian audience

10. Kaya improvisasi
Sense of humor juga perlu dalam hal ini


Last but not least:

1. Attitude itu penting

2. Evaluasi Diri
Mau terima masukan & kritikan. Nobody's perfect!

3. Practice Makes Perfect
Latihan, latihan dan terus latihan. Sampai sekarang saya masih suka datang ke acara-acara, memperhatikan bagaimana seorang MC profesional membawakan acara & menguasai panggung. Latihan ini akan terus menjadi pelajaran yang tidak pernah berakhir

4. Be yourself
Temukan ciri khas dan keunikanmu sendiri, itu yang akan membuatmu berbeda dan diingat orang lain

Baiklah sepertinya cukup untuk tulisan saya hari ini, kepala saya mulai berasap dan perut saya mulai berdemo. Waktunya makan malam :)

Tips MC Panggung Part. I

Menjadi seorang MC bukanlah cita-cita saya sedari kecil. Jawaban standard anak-anak kecil jaman dulu, termasuk saya adalah ingin menjadi insinyur, direktur ataupun menjadi dokter. Nah, dari ketiga profesi tadi, saya paling mantap dengan profesi dokter. Alasannya sederhana, supaya bisa membantu keluarga atau teman yang sakit.

Seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa saya bukanlah orang yang berani menghadapi jarum suntik. Lah wong waktu umur 3 tahun saja, saya pernah kabur dari praktek dokter sampai saya dikejar-kejar oleh ibu saya plus abang-abang becak yang dimintai tolong untuk ikut mengejar (cerita dari ibu saya). Belum lagi tiap kali ada pemeriksaan dokter atau imunisasi di sekolah, sudah dipastikan saya orang pertama yang ngumpet di bawah kolong meja atau mengeluarkan beribu alasan supaya tidak berangkat ke sekolah. Bukan cuma trauma sama dokter umum, dokter gigipun sama ceritanya. Sampai-sampai pernah, tangan dokter gigi yang memegang saya, saya gigit sekeras-kerasnya sampai berdarah karena waktu itu saya sudah bilang sakit, tapi tetap saja dia mencabut gigi saya tanpa ampun. Alhasil dokter itu tidak mau melanjutkan pencabutan gigi saya & saya pulang dengan gigi masih tersisa setengah :p

Cerita berlanjut ketika saya dewasa, tidak pernah ada dalam bayangan saya bahwa saya akan menjadi seorang MC alias Master of Ceremony. Dulu pertama kali saya menjadi MC itu murni karena kecemplung di beberapa acara gereja yang berlanjut oleh permintaan teman untuk menjadi MC di acara ulang tahun "Sweet Seventeen" mereka. Pada waktu itu sih perasaan saya asik-asik saja, secara banci tampil dan hobi ngobrol plus cuap-cuap. 

Begitu masuk kuliah, saya mulai fokus di dunia perkuliahan. Kemudian di tahun 2005, saya mencoba peruntungan menjadi presenter di in-house production salah 1 TV kabel yang ada di Indonesia, sambil saya mulai kembali aktif memasuki dunia perMCan. Lanjut lagi di tahun 2006, saya mengikuti lomba "MC Search" di Mal Ciputra Jakarta. Waktu itu saya keluar menjadi juara 3 dan perjalanan saya menjadi seorang MC panggung dimulai dari sini. 

Buat bapak ibu, enyak babe, anak muda ataupun anak setengah muda kaya saya yang berkecimpung di dunia Public Speaking khususnya di bidang MC Profesional. Berikut ini saya akan memberikan tips-tips bagaimana menjadi seorang MC Panggung. Walaupun sampai sekarang saya masih terus belajar di bidang itu :)

Yappp..kalau ngomongin tentang MC, pasti sebagian besar dari kita sudah tahu apa itu MC dan bisa dibilang saat ini MC sudah menjadi suatu profesi yang diidam-idamkan. Lihat saja di mal-mal, hotel-hotel, perusahaan-perusahaan membutuhkan jasa seorang MC untuk launching product, company gathering, wedding, sweet seventeen & event-event lainnya.

MC itu sendiri artinya adalah orang yang bertugas memandu acara & bertanggung jawab atas lancar atau tidaknya suatu acara. MC juga bertanggung jawab memastikan acara berlangsung lancar, tepat waktu, serta meriah/ khidmat dari awal hingga akhir. Bisa dibilang MC ini menjadi ujung tombak/ jantung hati dari suatu acara (ah..kalau ngomongin jantung hati jadi keinget hati ini yang masih kosong *sekaliancurcol).

Yang harus diketahui oleh seorang MC sebelum hari-H adalah menggali secara jelas detail acara itu sendiri, seperti:

1. Siapa audience kita? 
Kita tahu usia, karakter dan latar belakang audience. Ini akan mempengaruhi gaya bahasa kita dan cara menghadapi mereka. Ga mungkin kan di acara anak-anak, tapi kita menggunakan bahasa berat yang cuma kita dan Tuhan yang tahu apa artinya. Terus asiknya jadi MC adalah kita bisa terus belajar mengenal karakter audience yang unik dan berbeda-beda. Contoh ada audience yang suka banget dapat hadiah walaupun hadiahnya payung cantik, ada juga yang ga tertarik sama sekali dengan hadiah (hadiah mobil mewahpun biasa aja buat mereka), ada juga penonton yang loyal sama acaranya sampai tiap tahun nonton, rela nungguin berjam-jam dan rela bawa kursi sendiri ke dalam mal :p

2. Dimana tempatnya? (outdoor/ indoor)
Tempat ini juga akan mempengaruhi kita dalam persiapan mental, teknik memproduksi suara, teknik berbicara dan pemilihan dresscode yang nantinya akan saya bahas di nomor 4


Ketika saya menjadi MC acara outdoor
3. Apa jenis acaranya? (formal/ semi formal/ non formal) 

4. Dresscodenya apa? 
Ini berhubungan dengan appearance from head to toe, jangan sampai saltum. Apakah ada thema-thema tertentu sehingga kita perlu menyiapkan dresscode? Misal acara olahraga tempat outdoor, tapi MCnya datang heboh dengan sasakan tinggi. 
Saya pernah menjadi MC acara wedding outdoor pakai stiletto, alhasil repot narikin sepatu tiap kali jalan di taman karena nancep-nancep. Belum lagi kejadian gaun item yang transparan pas kena lighting. Atau dresscode yang robek rok belakangnya 2 jam sebelum acara gara-gara kesempitan dan tidak hati-hati pas mau turun mobil. Kecerobohan saya adalah tidak membawa baju cadangan pada waktu itu. Jadi ada baiknya bawa baju cadangan ketika kita MC
Salah 1 foto saya menggunakan dresscode yang saya buat khusus dengan thema Alice in Wonderland
Yang 1 lagi saya menggunakan dresscode sewaan dengan thema Pirates
5. Run down acaranya seperti apa 
Tanya jauh-jauh hari dan minta sama pihak penyelenggara acara supaya bisa dipelajari dengan baik, tahu detail acaranya, pastiin lagi cara penyebutan nama, gelar, jabatan, nama product (apalagi kalau dalam bahasa asing)

6. Cue card 
Pastikan apakah EO/ perusahaan menyediakan cue card atau kita sendiri yang membuatnya

Cue Card tampak depan, biasanya menggunakan logo perusahaan ataupun nama acara
Contoh isi cue card

7. GR (Ini ga boleh ketinggalan)
Gladi Resik atau GR ini membuat kita tahu betul urutan acara dan bisa kenal lebih dekat dengan client, EO ataupun pengisi acara yang lain. Jangan karena malas GR terus kasih alasan mau pergi ke dokter karena bisulan ga sembuh-sembuh atau mau check jerawat yang ga pecah-pecah. BIG...NOOO...NOOOOO...

To Be Continued...

When Things Gone Bad, but The Show Must Go On

Friday, May 23, 2014

Pernah ga sih ngalamin yang namanya blank tiba-tiba? Lupa materi pas kamu lagi ngomong di depan umum? Pengen kabur dari kumpulan orang yang nungguin kamu dengan muka terganga dan penasaran waktu lagi presentasi? Kamu merasa sudah mempersiapkan segala materi dengan baik, sampai ga makan, tidurpun kurang, eh tiba-tiba pada hari-H, USB ga bekerja dan kamu ga ada back-up? Atau kejadian-kejadian lainnya?

Berhubung pengalaman saya sebagai seorang Master of Ceremony, tentunya saya pernah ngalamin yang namanya "When Things Gone Bad" ketika saya membawakan acara. Walaupun tentunya dulu pas jaman SMU saya cuma bisa cekakak cekikik tanpa arah tujuan, jadi bahan banyolan pas disuruh maju presentasi sama guru. "When Things Gone Bad" yang saya alami bukan cuma sekali, tapi berkali-kali sampai akhirnya kebal sendiri. Sekarang malah nagih pengen ngalamin terus (kalau yang ini saya bohong ya 😛). 


"When things gone bad" ini adalah hal yang ga pernah kepikiran bakal terjadi dan biasanya kejadiannya adalah spontan. Kadang pas kita ngalamin kejadian itu kita akan terhenyak, terdiam dan ga tau lagi mau ngapain. Kalau saya sebenernya pengen ngilang dari muka bumi ini, langsung pergi pakai pesawat jet ke Venus dan ga balik-balik lagi (tapi sayang kalau ke Venus, pria-pria adanya di Mars ahahahaha..)


Kejadian yang paling saya ingat terjadi di hari ulang tahun saya 5 tahun yang lalu. Waktu itu saya harus membawakan acara  door prize di salah 1 mal yang ada di Jakarta Barat. Mal yang paling kece, paling dewasa usianya di daerah Jakarta Barat, mal tempat saya melatih kemampuan MC selama bertahun-tahun, pokoknya mal ini terkenal banget deh. Pasti tahu kan dimana? Yap, anda betul... Mal Ciputra Jakarta :)


Pada waktu itu MOD yang bertugas mengatakan bahwa hari itu saya harus membuka acara dengan tarian yang lebih heboh dari tarian-tarian saya sebelumnya. Pada waktu itu saya sempet mikir bukannya tarian saya sebelumnya sudah cukup heboh ya, sampai-sampai kebawa mimpi tiap malam dengan lagu yang sama :p Saya mengiyakan saja sebagai seorang MC yang profesional (padahal waktu itu saya sedang dikerjai karena dia tahu saya berulang tahun). 


Akhirnya pada pembukaan acara saya berdiri dengan gerakan tangan diangkat ke atas ala-ala penari Timur Tengah yang super expert. Posisi tirai waktu itu masih tertutup dan akan dibuka oleh teman-teman saya. Begitu musik dinyalakan, mulailah tirai dibuka dan saya melenggak lenggok dengan hebohnya bak pemain film Bollywood. Pada waktu itu saya mengenakan baju India dan pinjeman pula :p Sedang asik-asiknya menari saya tidak memperhatikan bahwa ada tangga pendek di depan saya. Bisa dipastikan beberapa saat kemudian ada bunyi-bunyian yang membuat pengunjung dari lantai dasar sampai lantai 5 terbahak-bahak, "GEDUBRAAAAKKKKKK." Saya jatuh dengan rambut tidak berarturan di atas panggung. 


Pada waktu saya mengalami hal itu, saya tahu pilihan saya cuma 2. Kabur lari ke belakang panggung terus ga balik-balik lagi atau berdiri, sok cool, pura-pura lupa ingatan dan kembali melanjutkan acara. Tentunya pilihan pertama bukan pilihan buat saya dan tidak ada pilihan lain kecuali saya memulai acara tersebut. Setelah beberapa saat saya termenung (termenung kali ini beda rasanya kayak termenung pas lagi ditembak cowok yang kita suka sudah lama). Akhirnya saya berdiri, merapikan rambut saya yang acak adut seperti terkena badai dan saya mulai berbicara "Eh pakai acara jatuh segala, selamat sore pengunjung setia Mal Ciputra Jakarta" (sambil tersenyum lebar dan menertawakan diri sendiri). 


Saya ingat sekali ada ibu-ibu depan saya yang tertawa terbahak-bahak sambil nunjuk-nunjuk ke arah saya, tapi ya sudahlah "The Show Must Go On." Selama beberapa saat setelah saya berdiri, saya masih dalam keadaan tidak sadar dan tidak tahu harus berbuat apalagi. Yang saya tahu adalah ketika kita ada dalam posisi ini, ilmu ngeleslah yang paling dibutuhkan. Ilmu ngeles ini akan bertambah tingkatannya ketika kita mulai memiliki jam terbang yang tinggi. Semakin sering kita mengalami, semakin kita tahu apa yang harus kita lakukan (makanya sering-seringlah presentasi, maju ke depan atau naik ke atas panggung). Sayang sekali di kampus-kampus tidak ada mata kuliah "Ilmu Ngeles". Kalau ada, sudah dipastikan saya akan mengambil mata kuliah itu. 


Btw, inilah penampakan saya ketika saya jatuh di atas panggung. Tetap eksis bukan, walaupun senyumnya sedikit kecut menahan malu..



Sebenernya masih banyak lagi kejadian "When Things Gone Bad" yang terjadi ketika saya di atas panggung atau pada waktu saya ngemsi. Mungkin kalau dibukukan bisa 1 buku sendiri. Tapi saya akan ceritakan lagi aib-aib saya di masa-masa mendatang ohohohoho..

WHAT A SHAME IF WOMEN CAN'T COOK!!

Thursday, May 22, 2014

Cerita ini bermula dari perjalanan saya di Denmark sebulan lalu. Pada waktu itu saya mengikuti Connect Group (kalau di Indonesia itu seperti Persekutuan Doa. Jadi acara kumpul-kumpul di luar hari Minggu yang bikin kita bisa kenal lebih jauh dengan para anggota gereja). 

Duduk manislah saya beserta teman-teman yang hadir. Saat itu kita membuat pizza dan ice cream kreasi sendiri yang mana bahan-bahannya sudah disiapkan oleh sang empunya rumah. Tadaaaa...inilah penampakan pizza ala Melissa Cipao (gambar kurang menggiurkan, tapi soal rasa mantap *sambilangkatjempol)



Sedang asik-asiknya bercengkrama dengan teman-teman baru yang numplek bleg dari berbagai negara. Saya tertarik dengan pembicaraan antara pria Inggris dan wanita Philipina, karena posisi duduk saya yang memang berada tepat di depan mereka berdua. Awal mulanya sang wanita menceritakan tentang kisah cintanya dari masa muda, kemudian lanjut lagi ke cerita kekecewaannya yang disebabkan oleh beberapa pria (cinta oh cinta, perderitaannya tiada akhir). Sang pria menjawab pertanyaan-pertanyaan secara bijaksana bak "ahli cinta" yang memiliki pengalaman ribuan tahun. Sayapun berpikir, setelah dia saya mau ambil nomor urut biar bisa sekalian konsultasi masalah hati :p

Sambil terus bercerita ngalor ngidul, buntut-buntutnya dia bercerita mengenai kebudayaan di Philipina. Dia mengatakan bahwa di Philipina masih banyak wanita yang tinggal bersama orang tuanya sampai ketika mereka dewasa dan bahkan sampai mereka menikah (dalam hati, sama banget kayak di Indo). Saya sebagai pendengar yang baik tentunya mendengarkan pembicaraan yang begitu seru sambil sesekali ikut menimpali dan tentunya sambil menikmati chips yang ada di atas meja (kenapa berubah jadi chips? karena pizza saya sudah habis hiksss..hiksssss...) 

Oke kita sambung lagi ke pemeran utama dalam cerita ini. Wanita inipun kembali menceritakan para wanita yang sudah menikah ini sebagian dari mereka ada pula yang tidak bisa memasak. Kali ini saya sudah mulai diam karena saya termasuk jajaran wanita yang ada di klub itu. Tiba-tiba jawaban pria yang bikin chips di mulut saya hampir keluar adalah "WHAT A SHAME IF WOMEN CAN'T COOK!!" (Saya kasih tanda seru ya karena waktu itu dia ngomong dengan nada keras & menjadi pernyataan. Sekali lagi jadi pernyataan buat dia dan orang-orang di sekitarnya termasuk saya). Kala itu saya lagi duduk adem ayem, langsung diem, ga berkomentar apa-apa lagi, mulut kaku, nafsu makan hilang seketika (walaupun cuma makan chips yang menurut saya ga bikin kenyang & bikin geli-geli tenggorokan saya). Reaksi saya waktu itu diam saja, pura-pura ga denger dan pura-pura ga tau ahahahaha.. (seni kepepet) Untungnya mereka tidak mempertanyakan saya apakah saya wanita yang bisa nguplek-nguplek di dapur atau ga. Saya selamat pada malam itu.

Pas sampai di rumah, saya berpikir keras untuk ini (cielah, kayak pernah aja berpikir keras). Oke ralat, berpikir biasa aja untuk hal ini :p But, I know it's serious thing and really serious. Dulu saya berpikir kalau cewek sibuk kerja, ga perlu-perlu amat bisa masak. Apalagi kalau di Indo masih ada mbak yang bisa ngelakuin hal ini. Syukur-syukur nyokap atau mertua mau berbaik hati, mau masakin atau bawain makanan buat kita. Makanya papi saya suka teriak-teriak kalau anaknya yang cantik ini ga mau kena panas kompor, ga mau keringetan, ga mau nangis-nangis potong bawang & ga mau ke dapur. 

Ya..ya..ya..setelah kejadian itu, saya pikir tetep aja loh cewek harus UUD (Ujung Ujungnya Dapur). Ga mau juga kan ga bisa masak sama sekali, sedangkan cowok kita mahir banget masak. Apalagi rata-rata cowok di sana jago banget masak. Mereka super mandiri & keluar rumah enyak babenya dari mereka kuliah bahkan ada yang dari SMU. Jadi buat mereka wanitapun juga harus bisa masak, ga perlu jago-jago bak chef yang bisa lempar-lempar makanan di atas panci. At least bisa ke dapur, masak dan masakannya bisa dimakan.

Setelah kejadian ini, sayapun bertekad sering-sering nengokin dapur (bukan ke dapur terus nyolong makanan yang dimasak mbak atau nyokap, bukan juga ke dapur cuma buat bikin instant noddle), tapi belajar masak sikit-sikitlah. Beruntunglah pas di sana setelah kejadian yang menohok saya itu, saya sempat beberapa kali mencoba masak beberapa masakan simple seperti spaghetti bolonaignese, spaghetti tuna, chicken soup, chicken black peper and many more. Yang bikin bangga adalah it's works :) Yang penting bisa saya makan (ya iyalah ya). Ade saya sampai saat ini masih belum mau jadi kelinci percobaan masakan saya. Liat saja nanti. 

Selamat belajar! (sekalian ngomong sama diri sendiri).