WHAT A SHAME IF WOMEN CAN'T COOK!!

Thursday, May 22, 2014

Cerita ini bermula dari perjalanan saya di Denmark sebulan lalu. Pada waktu itu saya mengikuti Connect Group (kalau di Indonesia itu seperti Persekutuan Doa. Jadi acara kumpul-kumpul di luar hari Minggu yang bikin kita bisa kenal lebih jauh dengan para anggota gereja). 

Duduk manislah saya beserta teman-teman yang hadir. Saat itu kita membuat pizza dan ice cream kreasi sendiri yang mana bahan-bahannya sudah disiapkan oleh sang empunya rumah. Tadaaaa...inilah penampakan pizza ala Melissa Cipao (gambar kurang menggiurkan, tapi soal rasa mantap *sambilangkatjempol)



Sedang asik-asiknya bercengkrama dengan teman-teman baru yang numplek bleg dari berbagai negara. Saya tertarik dengan pembicaraan antara pria Inggris dan wanita Philipina, karena posisi duduk saya yang memang berada tepat di depan mereka berdua. Awal mulanya sang wanita menceritakan tentang kisah cintanya dari masa muda, kemudian lanjut lagi ke cerita kekecewaannya yang disebabkan oleh beberapa pria (cinta oh cinta, perderitaannya tiada akhir). Sang pria menjawab pertanyaan-pertanyaan secara bijaksana bak "ahli cinta" yang memiliki pengalaman ribuan tahun. Sayapun berpikir, setelah dia saya mau ambil nomor urut biar bisa sekalian konsultasi masalah hati :p

Sambil terus bercerita ngalor ngidul, buntut-buntutnya dia bercerita mengenai kebudayaan di Philipina. Dia mengatakan bahwa di Philipina masih banyak wanita yang tinggal bersama orang tuanya sampai ketika mereka dewasa dan bahkan sampai mereka menikah (dalam hati, sama banget kayak di Indo). Saya sebagai pendengar yang baik tentunya mendengarkan pembicaraan yang begitu seru sambil sesekali ikut menimpali dan tentunya sambil menikmati chips yang ada di atas meja (kenapa berubah jadi chips? karena pizza saya sudah habis hiksss..hiksssss...) 

Oke kita sambung lagi ke pemeran utama dalam cerita ini. Wanita inipun kembali menceritakan para wanita yang sudah menikah ini sebagian dari mereka ada pula yang tidak bisa memasak. Kali ini saya sudah mulai diam karena saya termasuk jajaran wanita yang ada di klub itu. Tiba-tiba jawaban pria yang bikin chips di mulut saya hampir keluar adalah "WHAT A SHAME IF WOMEN CAN'T COOK!!" (Saya kasih tanda seru ya karena waktu itu dia ngomong dengan nada keras & menjadi pernyataan. Sekali lagi jadi pernyataan buat dia dan orang-orang di sekitarnya termasuk saya). Kala itu saya lagi duduk adem ayem, langsung diem, ga berkomentar apa-apa lagi, mulut kaku, nafsu makan hilang seketika (walaupun cuma makan chips yang menurut saya ga bikin kenyang & bikin geli-geli tenggorokan saya). Reaksi saya waktu itu diam saja, pura-pura ga denger dan pura-pura ga tau ahahahaha.. (seni kepepet) Untungnya mereka tidak mempertanyakan saya apakah saya wanita yang bisa nguplek-nguplek di dapur atau ga. Saya selamat pada malam itu.

Pas sampai di rumah, saya berpikir keras untuk ini (cielah, kayak pernah aja berpikir keras). Oke ralat, berpikir biasa aja untuk hal ini :p But, I know it's serious thing and really serious. Dulu saya berpikir kalau cewek sibuk kerja, ga perlu-perlu amat bisa masak. Apalagi kalau di Indo masih ada mbak yang bisa ngelakuin hal ini. Syukur-syukur nyokap atau mertua mau berbaik hati, mau masakin atau bawain makanan buat kita. Makanya papi saya suka teriak-teriak kalau anaknya yang cantik ini ga mau kena panas kompor, ga mau keringetan, ga mau nangis-nangis potong bawang & ga mau ke dapur. 

Ya..ya..ya..setelah kejadian itu, saya pikir tetep aja loh cewek harus UUD (Ujung Ujungnya Dapur). Ga mau juga kan ga bisa masak sama sekali, sedangkan cowok kita mahir banget masak. Apalagi rata-rata cowok di sana jago banget masak. Mereka super mandiri & keluar rumah enyak babenya dari mereka kuliah bahkan ada yang dari SMU. Jadi buat mereka wanitapun juga harus bisa masak, ga perlu jago-jago bak chef yang bisa lempar-lempar makanan di atas panci. At least bisa ke dapur, masak dan masakannya bisa dimakan.

Setelah kejadian ini, sayapun bertekad sering-sering nengokin dapur (bukan ke dapur terus nyolong makanan yang dimasak mbak atau nyokap, bukan juga ke dapur cuma buat bikin instant noddle), tapi belajar masak sikit-sikitlah. Beruntunglah pas di sana setelah kejadian yang menohok saya itu, saya sempat beberapa kali mencoba masak beberapa masakan simple seperti spaghetti bolonaignese, spaghetti tuna, chicken soup, chicken black peper and many more. Yang bikin bangga adalah it's works :) Yang penting bisa saya makan (ya iyalah ya). Ade saya sampai saat ini masih belum mau jadi kelinci percobaan masakan saya. Liat saja nanti. 

Selamat belajar! (sekalian ngomong sama diri sendiri).

No comments:

Post a Comment