Saya BESAR di panggung

Sunday, June 1, 2014

Hmmmmm..kalau ngomongin masalah "BESAR", sebenernya agak sensitif buat saya.. Bukan karena besar badannya, tetapi kali ini saya akan menulis perjalanan saya berkecimpung di dunia perMCan selama hampir 1 dasawarsa (tahun depan genap 10 tahun hippp..hippp..horayyyyy..). Note: 10 tahun ini sudah gabungan saya fokus MC, bolak balik kerja kantor, fokus MC lagi dan akhirnya saya tahu passion saya dimana. Tentunya perjalanan saya masih panjang dan saya akan terus belajar mem"BESAR"kan diri saya di atas panggung di masa-masa mendatang. Semangat!!

Selama ini ada banyak sekali kejadian-kejadian tak terduga di atas panggung. For me, all moments are lovely, precious and memorable. Walaupun tak jarang ada kejadian yang memalukan :p But, I really love it! Kalau mengingat kejadian tersebut, saya suka senyam-senyum sendiri. Kadang saya menertawakan kebodohan itu bersama teman-teman yang kala berada di TKP. 


My Unpredictable Moments: 

1. Pernah kepentok mic saat mau opening suatu acara. Ceritanya adalah saya dan partner MC ingin membuka acara tersebut. Funfare sudah dibunyikan dengan megahnya, lighting sudah dinyalakan dengan indahnya dan kamipun bersiap, berjalan beriringan memasuki ballroom hotel dengan tubuh tegak dan mantap. Eiittssss tanpa dinyana, tiba-tiba partner MC saya mundur ke belakang 1 langkah karena ada pohon yang menghalangi jalannya. Dia mundur tanpa peringatan dan alhasil mic yang sedang saya pegang "menubruk" bibir saya yang kata orang mirip Angelina Jolie. Yang tersisa malam itu adalah saya membuka acara dengan meringis menahan sakit dan bibir sedikit jontor karena berdarah hiksss..

2. Berhubung hidup saya "nomaden" alias suka berpindah-pindah tempat tinggal (antara Tanjung Duren dan BSD). Suatu kali saya mendapat panggilan MC di daerah Jakarta Utara. Akibat suka berpindah-pindah rumah, akhirnya sepatu yang mau saya kenakan adanya di BSD. Saya mencoba meminta tolong ibu saya untuk mengantarkan sepatu itu. Setelah sekian lama menunggu, setengah jam sebelum acara, saya menyambut kehadiran sepatu yang masih terbungkus rapi dan cantik di kotaknya. Begitu dibuka, sesuatu bikin saya shock bukan kepalang adalah isinya ternyata bukan sepatu yang saya harapkan, tetapi malah sepatu olahraga. Entah siapa yang menukar isinya dan ibu saya tidak mengecheck terlebih dahulu. Bisa dibayangkan jika saya ngemsi wedding dengan gaun anggun, panjang dan bawahnya ditutup dengan sepatu olah raga. Untunglah waktu itu saya juga membawa sepatu cadangan, walaupun warnanya sedikit maksa.com


3. Diminta menjadi translator tiba-tiba di atas panggung oleh boss India. Pas awal-awal pekerjaan mendadak ini saya masih lancar dan cas cis cus. Begitu pertengahan, saya mulai keder dengan aksen dan bahasa-bahasa tingkat dewanya. Bisa ditebak akhir dari cerita ini adalah saya cuma bisa pasang senyuman lebar tanpa arti dan tanpa suara ketika dia melihat ke arah saya dan menunggu translate-an saya berikutnya. Tau gitu pas dari awal dia minta tolong, saya jawab saja “Nehi, nehi.” (sambil menggelengkan kepala)


4. Tetep ngemsi walaupun 1 hari sebelumnya kuku jempol kaki baru saja dicabut gara-gara bertabrakan dengan orang tak dikenal (salah 1 bentuk profesionalisme pekerjaan). Untungnya saya tidak terus-terusan berdiri sepanjang acara, tapi ada kursi yang disediakan untuk saya. Jika diperhatikan foto bawah ini saya menggenakan sandal tinggi bertali dengan jempol kaki kanan diperban


5. Selain kuku jempol kaki yang pernah dicabut. Pernah juga saya tetap mengguncang panggung dalam keadaan menggunakan penyangga kaki karena jatuh dari tangga dan ligamen robek


6. Rok terbang di atas panggung. Kejadiannya ketika acara Chinese Year. Kala itu saya mengenakan baju cheongsam menyesuaikan thema yang ada. Berhubung sulit mencari cheongsam yang seukuran dengan body saya yang seksi ini. Akhirnya saya membuat model cheongsam versi sendiri. Pas salah 1 pemain wushu memperagakan salah 1 gerakan di atas panggung. Saking ingin totalitas, dengan refleks saya mengikuti gerakannya. Saya lupa bahwa cheongsam saya bukanlah cheongsam pada umumnya yang ketat dan tidak akan terbang ketika saya melakukan manuver-manuver putaran di atas panggung. Ketika saya melakukan aksi saya, seorang anak kecil berteriak dari bawah panggung "Keliatan..keliatan.." Bisa anda tebak sendiri apa yang terjadi di atas panggung kala itu

7. Waktu Road Show ke sekolah-sekolah bareng Tabloid Gaul, ada anak yang bajunya sama persis dengan baju yang saya kenakan. Atasan biru dongker plus stocking pink, cuma gaya rambut plus sepatu aja kita berbeza). 

Can you see us? Like twins, right? 


8. Salah sebut nama juri. Brian adalah nama juri pada waktu itu, tapi entah mengapa yang keluar dari bibir saya adalah Martin (jauh banget ya booo dari M ke B..). Akhirnya ilmu ngeles langsung saya lancarkan. Saya bilang kalau saya melihat juri ini, saya selalu teringat Ricky Martin. Juri yang awal mukanya sedikit BT itupun tersenyum dan saya aman :) 

9. Kemacetan Jakarta yang susah ditebak bikin hati saya cenat cenut pada waktu itu. Kala itu saya sudah memanggil make-up artist jadi tidak membawa "perlengkapan perang" saya dengan benar. Make-up artist yang masih terjebak macet sedangkan saya sudah harus tampil dan kala itu saya hanya membawa eye shadow plus lipstick. Alhasil untuk membuat alis saya pakai eye shadow dan untuk blush on saya menggunakan lipstick (intinya multifungsi). Rambut saya acak-acak dan saya tebalik-balikin kepala supaya terlihat lebih mengembang. Saya muncul dengan make-up super minimalis. Oh..jangan sampai kejadian seperti itu terulang lagi..

10. Mendapat tawaran menjadi story teller, yang mana waktu itu merupakan kali pertama saya. Dari waktu 30 menit yang diberikan, saya menyelesaikannya hanya dalam waktu 15 menit. Begitu cerita habis, saya mulai bingung memikirkan apa yang harus saya lakukan di 15 menit berikutnya? Gak mungkin kan cerita hidup saya yang disampaikan kepada anak-anak itu :p Kemudian, saya menatap crew EO dan mereka memberikan tanda untuk terus menggulur waktu. Akhirnya anak-anak itu saya ajak bermain games sampai waktu habis. Malamnya saya latihan supaya besok saya bisa bertahan lebih lama 

Saya akan menulis lagi di lain waktu, karena saya harus beristirahat setelah seekor tawon menyengat saya di pertengahan penulisan blog saya ini, oucchhhh... 



No comments:

Post a Comment