Sepenggal Cerita Madam Hati

Sunday, June 7, 2015

Penggalan cerita bermula dari penghentian taksi sepulang ibadah hari ini. Kebiasaan favorit saya adalah menyapa dan mengajak ngobrol pak sopir. Biasanya, ada banyak cerita seru yang tersingkap ketika saya berbicara. 

Obrolanpun dibuka dengan pertanyaan "Bapak abis dari daerah mana? Poolnya dimana? bla...blaaa...blaaa.. Setelah saya bertanya, akhirnya sang bapak ikutan balik bertanya.

(Note: PS di sini Pak Sopir dan MH adalah Madam Hati alias saya)


PS: "Abis dari gereja ya neng?" 

MH: "Iya pak."

PS: "Suaminya mana?" 

Ngoookkk..ngookkk..baru pertanyaan awal sudah bikin saya nelen ludah. Ga peka amat si abang, saya kan tadi lambai-lambai plus naik taksi sendirian. Oh mungkin dia pikir suami saya ga ikut ke gereja *be positive :D Saya menjawab dengan malu-malu bagai wanita yang akan dilamar,

MH: "Iya pak, saya belum nikah."

PS: "Kenapa?" Masih milih-milih atau ga ada yang nembak?"

Gleekkk.. rasanya pengen jawab, "Tolong turunin neng di sini bang dan buang saja ke rawa-rawa. Neng ga kuat denger pertanyaan abang lagi *kelebayan muncul *senyum kecut. Apa maksudnya bilang ga ada yang nembak, ga perhatiin apa penampakan Madam Hati yang merona begini *sok oke banget :p

MH: "Yang nembak mah ada bang, cuma emang belum ada yang KLIK banget." *jawaban klise

PS: "Pilihan banyak neng, tapi ga ada yang sempurna di dunia ini."

Ada jenderal punya anak gadis yang cantik. Tiap minggu selalu ada pria bermobil yang menghampiri rumahnya. Suatu saat, ada seorang pria yang memiliki kendaraan roda 3 alias becak yang juga mencintai putri jenderal. Hampir tiap malam ia mendatangi rumah wanita tersebut dengan mengajak ayahnya bermain catur. Sampai suatu saat sang ayah luluh hati melihat kesahajaan pria tersebut dan akhirnya meminta untuk menjadi menantunya. Cinta terpendam berlanjut dengan happy ending.

MH: "Ini cerita beneran pak?"

PS: "Iya neng, itu nyata. Orangnya masih ada, tetangga saya di Rawamangun. Ingat neng, jangan sampai kesendirian menjadi suatu kenikmatan. Bahaya juga loh."

MH: Langsung tertawa ngakak, "Iya pak, sepertinya begitu. Terlalu lama sendiri, sudah terlalu lama kita asik sendiri *sambil nyanyi. Tolong dibantu doanya pak."

PS: "Tadi kan abis dari gereja, jadi sudah berdoa toh?"

MH: "Sudah pak, sudah lama doanya." :p

PS: "Cowok keren banyak neng, cewek cantik juga bejibun. Pilih pria yang bisa dijadikan suami."

MH: "Iya pak, saya juga maunya yang begitu."

Obrolan terhenti karena saya telah tiba di rumah. Saya sampai lupa menanyakan nama, saking asiknya kami bercerita. 

"Terima kasih Pak NN untuk bincang-bincang bermanfaat. Selalu sehat ya. Semoga suatu saat kita bisa berjumpa kembali."