A Blessed Journey

Thursday, June 9, 2016

Rekor traveling terbanyak di tahun 2016 sejauh ini jatuh kepada bulan lalu, yaitu bulan Mei. Setelah dibuka dengan perjalanan ke Kota Gudeg. Kali ini ditutup manis dengan perjalanan ke Kalimantan Barat. Belum lagi tambahan perjalanan yang lokasinya masih di seputaran Jabodetabek, yaitu Salembaran dan Gunung Pancar. 

Here I go.. Empat hari dengan 4 kali penerbangan ditambah 2 kali jalur darat. 
Perinciannya: Jakarta - Pontianak 800 km (1 jam 7 menit: jalur udara)
Pontianak - Sintang 232 km (30 menit: jalur udara)
Sintang - Sekadau (2 jam: jalur darat)
Perjalanan yang sama ketika kembali.  

Ini merupakan kali pertama saya menginjakan kaki ke Kalimantan Barat. Jadi terasa banget excitingnya :) Setelah tiba di Pontianak untuk transit. Akhirnya perjalanan dilanjutkan ke Sintang. 
Pesawat Foker

Pontianak-Sintang menggunakan pesawat seperti gambar di atas ini. Pas berada di dalam, pertama kali juga saya berada di dalam pesawat yang baling-balingnya keliatan. Ohhhh...noooo...bikin deg-degan tapi seru. Kapasitas pesawatnya ini tidak sebesar Boeing atau Airbus, tapi cukup untuk menampung 78 penumpang. Ketinggian pesawat tidak terlalu tinggi karena rumah-rumah terlihat dari atas dan kekuatan angin sangat menentukan jadi atau tidaknya pesawat ini terbang. Bisa saja anda sudah menunggu selama 3 jam dan pesawat dibatalkan karena cuaca buruk *pengalaman seorang teman*


Begitu turun saya melihat kumpulan orang menunggu di luar pagar. Awal mulanya saya pikir bahwa diantaranya adalah penjemput saya. Ternyata, mereka adalah warga yang ingin melihat langsung pesawat Garuda yang belum lama beroperasi di sana. Tadinya sudah GR duluan dengan berpikir penjemput yang pegang nama saya plus nunggu di luar pagar kayak di pilem-pilem ahahahaha..please deh Mel..
Bagagge Claim di Sintang
Oke secara keseluruhan, buat saya ini yang paling keren. Baggage claim bisa diambil langsung begitu turun tangga pesawat. Ga pakai antri, ga pakai lama dan ga pakai repot. Amazing experience :) 

Setelah menapakkan kaki di Bandara Susilo, saya masih harus melanjutkan perjalanan darat selama 2 jam ke Sekadau. Bagaimanakah ceritanya sampai saya bisa terdampar di Sekadau? Jadi saya mendapat undangan dari WVI dalam acara "Pelatihan Public Speaking Staff Kantor Operasional Sekadau."


Kami datang dari Jakarta
Kiri: Ka Ita Sembiring yang membagikan sesi Public Speaking

MCing Pelatihan Public Speaking Staff Wahana Visi Indonesia Indonesia Kantor Operasional Sekadau

Wefie, Our Happy Face

Jujur selama saya di Kalimantan Barat, semua makanannya enak. Menu yang saya coba di sana adalah bakmie Ponti, ikan asam pedas, cha kwe, siomay, hekeng, bingke dan ada 1 lagi makanan khas sana, tapi saya lupa namanya. Favorite saya ikan asam pedas dan hekeng nyaammm..nyammmm..jadi pengen ke sana lagi..

Setelah 1 malam di Sekadau, akhirnya saya kembali ke Sintang. Di Sintang ada tempat wisata yang terkenal dinamakan Bukit Kelam.
Woke up at 5 am to see this beauty

Jalan Salib di Bukit Kelam

Salah 1 sisi yang ada di Jalan Salib, proses penyaliban Tuhan Yesus

Entah gaya apalah ini? Penulisnya memang agak banyak gaya. Btw, ini adalah kolam ikan. Ikannya bukan yang pakai baju warna putih loh ya :p





Asia's Next Top Model lols..

Tibalah di malam terakhir di Kalimantan Barat, kembali ke Pontianak. Di sini saya sempat mengeksplore "Warung Kopi Asiang" yang sangat populer. Wajib hukumnya ke sini klo lagi di Pontianak. Buka dari jam 4 subuh. Tutup jam 1 siang. Penjualnya selalu bertelanjang dada tapi ga pernah masuk angin ahahahaha.. Rasa kopinya jangan ditanya? Strong, kental dan nikmat. Harganya segelas kopi susu Rp. 7000,- saja


Setelah puas minum kopi, pindah lagi ke perhentian terakhir sebelum ke bandara. Saya pergi ke Gereja Santo Yosef yang memiliki arsitektur sangat megah.
Gereja Santo Yosef







Banyak kejadian menarik ketika saya di sana. Ngobrol dengan sopir taksi yang memiliki cita-cita menjadi sopir SPG *ini bikin ngakak*. Ada juga sopir yang berpisah dengan istrinya karena tidak disetujui oleh keluarga istrinya dan seorang lulusan perawat menjadi sopir sambil menunggu lowongan kerja. Waoooowww..lengkap sekali cerita saya di sana. Bersyukur sekali bisa mendapatkan kesempatan berkenalan dengan mereka semua. 


What a blessed journey!






No comments:

Post a Comment