Ekspektasi VS Realita Snorkeling

Tuesday, August 8, 2017

Rasa penasaran tinggi hampir saja membuatku terbawa air laut. 

Masih lanjutan seputar perjalanan ke Nusa Penida kemarin http://www.alalacipao.com/2017/07/amazing-nusa-penida-bali.html. Selain mengeksplore keindahan alam di sana, saya juga mengeksplorasi lautan luas. Jadi kala itu, saya dan sahabat memutuskan mengambil private tour jalan-jalan sekaligus snorkeling. 
(Captured by Ita)
(Captured by Ita)
(Saya dan sahabat, Ita)
(Merem aja cantiknya gini, gimana kalau melek? Fotonya foto candid, jadi maklumin kalau mulut agak menganga ahahahaha.. Betina tangguh dalam perjalanan mau snorkeling. Berhubung perjalanan perginya saja menempuh waktu lebih dari 4 jam, jadi hayati lelah sampai ketiduran di atas kapal)

Awalnya... Ekspektasi saya ingin melakukan snorkeling adalah foto bersama ikan-ikan lucu nan menggemaskan di lautan bebas. Kemudian dilanjutkan dengan menyelam sambil melihat keindahan Gamat Bay, Budha Temple dan Toyapakeh Wall.

TETAPI.....

Realitanya... Pegangan kenceng pinggir perahu, keminum banyak air laut, hampir tenggelam dan berakhir duduk manis di perahu akibat mabok laut.
(Gamat Bay)
(baliseaview.com)
(Budha Temple)
(Captured by Ita)
(Toyapakeh Wall)
(https://www.tripadvisor.com/LocationPhotoDirectLink-g2538506-d9842206-i229934192-Discover_Nusa_Penida-Nusa_Penida_Bali.html)


Jadi, cerita ini bermula dari beberapa tahun silam dimana saya pernah melakukan snorkeling di Bali. Ending dari pengalaman pertama tersebut berakhir dengan pegangan perahu dikarenakan kaki katak yang tidak nyaman dan ending itu membuat saya ingin mencobanya kembali.

Oke balik lagi ke cerita Nusa Penida. Sebelum nyemplung, saya sudah diajarkan cara bernafas mengunakan snorkel oleh Ita, tapi masih belum berhasil. Cuma berhubung saya anaknya (kadang) nekat, jadi saya kekeuh sumekeh. Saya pikir di dalam laut saya pasti bisa. Wong di dalam kolam renang, saya merupakan perenang handal. Selain itu, yang bikin saya makin PD, di seberang perahu, ada anak bule snorkeling dengan canggihnya. Makin ga terima dong. Masak iya kalah sama anak kecil? 😅

Kamipun bersiap mengenakan kaki katak, life jacket, masker dan snorkel. Jujur, life jacket saya kala itu tidak terkancing sempurna, karena ...... KESEMPITAN. Jadi hanya terkancing sebagian. Kalau dilihat dari penampakan life jacket, mereka bawain ukurannya Luna Maya 😓


Akhirnya, setelah siap nyemplung, sahabat saya tiba-tiba ngomong, 
"Bli, ini kaki kataknya dilepas aja ga apa-apa kan?"

Bli, "Iya ga apa-apa."

Sebagai anak baru di dunia persnorkelingan dengan "sotoy"nya saya ikut-ikutan melepas kaki katak. Padahal sahabat saya ini memang sudah wara wiri melakukan snorkeling. Jadi buat dia aman. Buat saya? Weleh weleh weleh.


Cerita berlanjut ketika berada di dalam air, life jacket saya naik-naik terus. Akhirnya saya tambahkan lagi ke"sotoy"an dengan melepaskan life jacket dan melemparnya ke perahu. Tidak berapa, masker dan snorkel juga saya lepaskan. Alasannya karena saya ga bisa nafas. 

Cerita berakhir, dengan:
1. Doa minta ampun sama Tuhan buat segala dosa-dosa karena kala itu saya punya pikiran akan tenggelam dan bye bye dunia *amitamit.

2. Gandengan erat saya sama perahu yang eratnya melebihi gandengan ke mantan pacar #elaaahhhhh. 

Sesekali saya mencoba melepaskan pegangan dan berenang. Namun, air pasang meruntuhkan kemampuan saya. Untunglah bli kami sigap menolong. Untunglah juga, kami mengambil private tour. Bayangkan jika beramai-ramai, mungkin saya sudah terdampar entah dimana?

(Masih bisa senyum setelah snorkeling. Padahal sebelumnya muka kaku karena panik lol..)
Pesan moral dari cerita ini, jangan ragu untuk mencoba segala sesuatu yang baru. Kalaupun ga berhasil, ya coba lagi di masa mendatang. Terus persiapan harus matang ketika mencoba. Jangan sotoy kayak wanita berbaju kuning yang ada di foto ini! 🙊

No comments:

Post a Comment